Jadi Destinasi Wisata Keren, Ini Dia Orang yang Mendirikan Cirebon

Cirebon sangat beruntung, karena tidak banyak kota di Indonesia yang menyimpan tempat bersejarah pendiri kotanya. Namun, sedikit wisatawan dan bahkan sebagian warga Cirebon yang tahu tempatnya.

detikTravel pun menuju Makam Keramat Talun di Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, beberapa waktu lalu. Jaraknya hanya 10 Km dari pusat Kotamadya Cirebon ke arah Sumber, pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon.

Mengikuti papan petunjuk arah dan menyusuri jalan desa, saya sampai ke sebuah bukit kecil yang rindang dengan pepohonan. Ada tempat parkir yang cukup luas dan gapura merah bata yang mencolok mata.

“Selamat Datang di Keramat Talun, Pangeran Cakrabuana Mbah Kuwu Sangkan Cirebon Girang,” begitu tulisan di atas gapura dengan patung harimau di depannya.

Di dalamnya ada sebuah rumah yang merupakan gabungan antara masjid, makam dan tempat istirahat peziarah yang dipisahkan antara pengunjung pria dan wanita. Di sini saya berjumpa juru kunci bernama Sujai Abdullah yang baru saja mengantar wisatawan dari Brebes berziarah.

“Pangeran Cakrabuana nama kecilnya adalah Walang Sungsang, dia anak Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi,” kata Sujai memulai obrolan. Itu menjelaskan kenapa ada patung harimau yang merupakan ikon Kerajaan Pajajaran.

Pangeran Cakrabuana meninggalkan ayahnya yang Hindu untuk belajar agama Islam, kemudian membuka pemukiman baru di daerah pesisir. Itulah sebabnya dia mendapatkan nama Mbah Kuwu alias kepala desa, karena pemukiman itu awalnya adalah sebuah desa yang berinduk ke Pajajaran.

“Mbah Kuwu itu nggak seperti bangsawan. Dia malah lebih dikenal sebagai pedagang cai rebon, air perasan udang (bumbu petis-red). Dari situlah lahir nama Kota Cirebon,” ungkap Sujai.

Hari bersejarah dimana Mbah Kuwu Cirebon membuka pemukiman baru itu dijadikan sebagai hari lahir Kota Cirebon yaitu tepat pada tanggal 1 Muharram. Umur Cirebon menurut versi Pemda adalah 646 tahun, namun beberapa sejarawan menyebut umur kota ini adalah 587 tahun merujuk pada pembukaan hutan menjadi pemukiman pada 1 Muharram 849 Hijriyah.

Mbah Kuwu dan adiknya Rara Santang kemudian memperdalam agama Islam ke Champa dan Mekkah. Rara Santang menurut Sujai, seperti juga tercatat dalam sejarah Cirebon menikah dengan Sultan Mesir dan memiliki putra Syarif Hidayatullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu kemudian mendirikan Kesultanan Cirebon. Mbah Kuwu alias Pangeran Cakrabuana menjadi Sultan Cirebon I pada 1430-1479, Sunan Gunung Jati menjadi Sultan Cirebon II pada 1479-1568. Selanjutnya Cirebon berkembang terus menjadi seperti sekarang.

“Meskipun keraton ada di tengah Kota Cirebon, Mbah Kuwu dari dulu selalu tinggal di sini. Mungkin memang karena tempatnya tenang untuk tetirah sampai dia meninggal,” kata Sujai.

Makam Mbah Kuwu berada dalam ruangan yang ditutup tirai hijau dan pintu kayu jati. Pintu ini jarang dibuka sehingga pengunjung tidak tahu bentuk asli makamnya. Mereka hanya membaca tahlil saat berziarah dari luar ruangan di depan tirai hijau ini.

Menurut Sujai, lambat laun makam Mbah Kuwu menjadi objek wisata religi di Cirebon, selain Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Makam Sunan Gunung Jati. Area parkir diperluas untuk wisatawan dan ada masjid baru untuk pengunjung. Sebelumnya sudah dibangun akses jalan baru yang lebih lebar dari Jl Ir Soekarno menuju lokasi.

“Kalau wisatawan dalam negeri sih dari seluruh Indonesia. Kalau wisatawan luar negeri dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Kemarin ada 4 turis Jepang dibawa pemandunya ke sini,” kata Sujai.

Cara ke sana:

Wisatawan dari Cirebon kota bisa menuju Jl Raya Sumber-Cirebon sampai perempatan pabrik air mineral Mountoya. Dari situ belok kiri ke Jl Raya Ir Soekarno. Lihat petunjuk arah Wisata Religi Mbah Kuwu Cirebon dan ikuti jalan di samping sungai irigasi sampai ke lokasi.

Siapa sangka, desa kecil tempat orang membeli petis ratusan tahun silam itu kini menjelma menjadi destinasi wisata yang menarik di Jawa Barat. Ssst, asal tahu saja, wisatawan masih bisa membeli petis udang di aneka toko oleh-oleh Cirebon. Sebuah tradisi yang dimulai dari sang pendiri kota, Mbah Kuwu Cirebon,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s