Rumah Joglo,Rumah Adat Di Yogyakarta

Yogyakarta, salah satu tempat paling poluler di Indonesia karena budayanya memang memiliki banyak sekali sesuatu yang menarik. Beragam tempat wisata, makanan khas, dan tempat belanja sungguh menjadi magnet bagi para wisatawan yang hendak berkunjung. Selain beberapa hal di atas yogyakarta juga masih menyimpan salah satu keunikan budaya warisan yaitu rumah adat.

rumah adat joglo yogyakarta4

Yuupss,tau dong Rumah Joglo,Rumah Adat di Jawa dan Yogyakarta disebut rumah joglo. Menurut Narpawandawa, 1937-1938. Rumah adat di Jawa ada lima jenis yaitu kampung, panggung pe, tajug, limasan, dan joglo. Namun dalam perjalannanya, jenis rumah ini bekembang menjadi berbagai jenis bangunan rumah tradisional/adat, hanya saja tetap berpekem pada pola dasar lima rumah tersebut.

Rumah Adat di Jawa itu penuh filosofi dan makna. Berbagai hal mulai dari ukuran, kerangka, kondisi perawatan rumah, dan ruang-ruang di dalam rumah serta kondisi disekitar rumah yang dikaitkan dengan status pemiliknya itu ditentukan terlebih dahulu. Ada sebuah perhitungan yang disebut “petang” mulai dari , letak, waktu, arah, cetak pintu utama rumah, letang pintu pekarangan, ukuran, kerangka rumah, dan lain-lain agar pemilik rumah memeroleh ketenteraman, kesejahteraan, dan kemakmuran ketika menghuni rumah tersebut. Di dalam kehidupan kepercayaan masyarakat Kejawen, setiap kali membuat rumah baru, tidak dilupakan adanya sesajen, yaitu pernak-pernik tertentu yang disajikan untuk badan halus, danghyang desa, kumulan desa dan sebagainya, agar dalam usaha pembangunan rumah baru tersebut mendapatkan keselamatan.
Bagian-bagian Joglo
  • pendapa
  • pringgitan
  • dalem
  • sentong
  • gandok tengen
  • gandok kiwo
Bagian pendapa merupakan bagian paling depan dari rumah Joglo

yang terdapat ruangan luas tanpa sekat-sekat, biasanya digunakan untuk tempat pertemuan untuk acara besar bagi si pemilik rumah seperti acara pagelaran wayang kulit,tari,gamelan dan yang lain.Pada waktu ada acara syukuran biasanya sebagai tempat tamu besar. Pendopo biasanya terdapat soko guru,soko pengerek,tumpang sari.
Bagian Pringgitan adalah bagian penghubung antara pendopo dan rumah dalem.Bagian ini dengan pendopo biasanya di batasi dengan seketsel dan dengan dalem dibatasi dengan gebyok.Fungsi bagian pringgitan biasanya sebagai ruang tamu.
Bagian Dalem adalah bagian tempat bersantai keluarga. Bagian ruangan yang bersifat lebih privasi.
Jenis Joglo

Joglo Limasan Lawakan (atau “Joglo Lawakan”).
Joglo Sinom
Joglo Jompongan
Joglo Pangrawit
Joglo Mangkurat
Joglo Hageng
Joglo Semar Tinandhu

Iklan

Destinasi Ekowisata Kebun Buah Mangunan, Jogja punyaa..

Gak komplit doong,kalok belum mampir ke tempat wisata yang satu ini.. Ya Kebun Buah Mangunan yang sekilas sebutan Negeri Atas Awan Bantul mungkin terlalu berlebihan, namun jika kita datang langsung di Kebun Buah Mangunan Bantul kita baru percaya bahwa tempat wisata alam di Jogja ini benar-benar seperti negeri di atas awan. Berada di ketinggian 200 Mdpl, tempat ini menawarkan udara pegunungan yang sejuk ditengah panorama alam yang mempesona.

kebun-buah-mangunan-yogyakarta

Kebun Buah Mangunan berada di Desa Mangunan – Kecamatan Dlingo – Kabupaten Bantul, sekitar 15 km dari Kota Bantul atau sekitar 35 km dari pusat Kota Yogyakarta. Terletak di area hutan alami seluas 23,34 Ha, kebun buah ini merupakan pusat agrowisata dimana pengunjung dapat menyaksikan pemandangan alam nan elok, sembari memanjakan diri dengan menikmati buah-buahan segar. Salah satu tempat wisata alam di Jogja ini dibangun oleh Pemkab Bantul dan diresmikan pada tahun 2003 silam.

Tempat Wisata Kebun Buah Mangunan Sarat Edukasi

Dari ketinggian Kebun Buah Mangunan, terlihat suasana bagian Barat Kota Bantul serta bagian Selatan Pantai Parangtritis. Masih dilokasi yang sama kita juga bisa menyaksikan aliran Sungai Oya yang terlihat sangat curam. Sama seperti tempat wisata alam Tlogo Putri Kaliurang, di Kebun Buah Mangunan ini juga masih banyak populasi monyet. Hal ini semakin memperkuat nuansa alami tempat wisata yang mengagumkan.

 

Bisa dibilang Kebun Buah Mangunan adalah tempat wisata sarat edukasi. Karena berupa tempat agrowisata, maka pengunjung dapat mempelajari berbagai macam bentuk tumbuhan dan buah mulai dari pembibitan, cara tanam, dan sebagainya. Pengunjung juga bisa mengamati berbagai pohon buah yang ditata apik sesuai kemiringan Bukit Mangunan.

kebun-buah-mangunan-bantul

Berbagai jenis pohon buah ditaman disini, diantaranya: Durian, Mangga, Sawo, Jeruk, Rambutan, Manggis, Duku, dan Jambu Air. Disamping itu ada juga jenis pohon buah yang jumlahnya tidak begitu banyak seperti Kelengkeng, Jambu Biji, Matoa, Belimbing, dan Cempedak. Untuk menambah nuansa alami ditanam juga pohon Jati, King Grass, dan beberapa pohon pagar hidup seperti Magium dan Pinus.

Aktivitas di Taman Buah Mangunan Jogja

Di Kebun Buah Mangunan Bantul ini kita bisa melakukan berbagai aktivitas menyenangkan seperti outbond, memancing, berkemah, berenang, olahraga sepeda gunung, dan menguji adrenalin lewat Jembatan Gantung. Untuk kegiatan outbond meliputi flying fox, reflying, dan jembatan goyang. Jika membutuhkan kegiatan indoor juga tersedia gedung berkapasitas hingga 50 orang.

img79-1445330825

Kebun Buah Mangunan juga merupakan lokasi yang tepat untuk berkemah atau camping. Untuk kegiatan ini dikenakan biaya tambahan (diluar biaya tiket masuk) sebesar Rp. 5 ribu/orang. Bagi yang membawa anak-anak juga tersedia 2 buah kolam renang untuk anak dengan tarif Rp. 5 ribu. Juga disediakan bebek kayuh dengan kapasitas maksimal 2 orang saja.

Disini juga disediakan lintasan downhill sepanjang 2,3 km khusus bagi yang punya hobi olahraga sepeda gunung. Untuk kelas cross country tersedia lintasan sepanjang 3,8 km. Harga sewa untuk lintasan downhill maupun cross country Rp. 50 ribu maksimal 5 orang.

Bakpia, Taukan Oleh-Oleh khas Yogyakarta yang satu ini?

Kota Bakpia diadopsi dari makanan khas Cina jika melihat dari asal usul sejarahnya, namun seiring dengan perkembangannya jenis isian bakpia sendiri disesuaikan dengan budaya Indonesia seperti dengan menggantinya dengan kacang ijau. Dan kini, jenis isian Bakpia ada yang dikembangkan dengan beraneka macam rasa seperti keju, cokelat, kumbu hijau dan kumbu hitam.

Bakpia

Pada zaman dahulu, penduduk Jogja yang mayoritasnya beragama Islam mengubah isian resep Bakpia yang merupakan daging babi menjadi kacang hijau, dan pada saat itu mereka belum mengenal istilah merek dagang sehingga produk-produk Bakpia yang dijual hingga saat ini banyak yang berlabel “nomor rumah produsen” seperti nomor 25, nomor 75, dan lain-lain. Itulah alasan mengapa nama-nama merek dagang Bakpia Pathuk ada yang bernama Bakpia Pathuk 25, Bakpia Pathuk 75 dan masih banyak lagi.

Ternyata, bukan hanya warga Pathuk, Yogyakarta saja yang menjadi produsen bakpia. Sekitar tahun 70-an, ada seseorang yang bernama Nitigurnito yang berprofesi sebagai produsen bakpia dari daerah Tamansari, Yogyakarta. Ia membuat Bakpia yang berbeda dengan buatan warga Pathuk, Nitigurnito membuat Bakpia dengan lapisan kulit yang lebih tebal dan berwarna putih, serta bagian tengah yang kecoklatan karena hasil panggangan. Sedangkan Bakpia Pathuk memiliki tekstur yang renyah dengan kulit lebih tipis dan mudah rontok. Tak butuh waktu lama bagi masyarakat sekitar tempat tinggal Nitigurnito untuk memproduksi dan membuka toko Bakpia seperti dirinya, bahkan bagi warga Yogyakarta, Bakpia Tamansari lah yang dianggap sebagai Bakpia khas Yogyakarta. Sayangnya, tak butuh waktu yang lama bagi toko-toko Bakpia di daerah Tamansari mengalami keterpurukan sehingga tak meninggalkan sisa sedikit pun. Banyak kemungkinan yang menjadikan Bakpia Tamansari tidak berkembang salah satunya tingkat promosi daerah yang kurang dan jauh dari jangkauan kawasan pariwisata.

Kota Berbeda dengan Bakpia Pathuk, berhubung Bakpia Pathuk banyak dibuat berdasarkan usaha rumahan, kawasan tersebut banyak dikenal sebagai sentral pemuatan dan penjualan Bakpia yang paling terkenal di daerah Yogyakarta sehingga banyak wisatawan yang datang berkunjung dan membeli produknya. Tingkat promosi dan posisi yang strategis dari kawasan wisata membuat Bakpia Pathuk tetap bertahan hingga saat ini.

Kotak Kemasan Bakpia Pathuk pun ditampilkan dengan kemasan baru dan merek dagang sesuai dengan nomor rumah seperti 75,55,25 dan lainnya. Dari sini kemudian diikuti dengan munculnya beragam inovasi bakpia yang berbeda yang kurang lebih ada sekitar 100 merk Bapkia dan yang paling terkenal di antaranya Bakpia 145, Bakpia 75, Bakpia 25, Bakpia Djava, Bakpia Kurnia Sari, Bakpia Kencana, Bakpia Merlino dan Bakpia Snack It Pia 100 (bisa ditemukan di berbagai supermarket terdekat). Bakpia Jogja sempat booming sekitar tahun 1992-sekarang dan telah berhasil menjadi ikon wisata kota Yogyakarta dalam hal pusat oleh-oleh khas kota Yogyakarta.

Andong,Transportasi Ramah Lingkungan Di Yogyakarta

Andong merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti Solo dan Klaten. Keberadaan andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang kini masih terus dilestarikan.Andong memiliki sebutan lain, seperti dokar, delman, bendi atau sado. Bedanya, andong mempunyai empat roda.

Wisata-Jogja-Dengan-Andong-Jogja.jpg

Sejarah Andong dimulai dari berdirinya Kraton Yogyakarta Hadiningrat, dimana para Raja-raja Mataram atau Yogyakarta dulu mempergunakan alat Tranportasi ini sebagai Kendaraan. Andong merupakan kereta kuda beroda empat yang hanya boleh digunakan oleh para bangsawan, terutama raja dan para kerabatnya. Di awal abad 19 hingga awal abad 20, andong ini menjadi salah satu penanda status sosial para priyayi keraton, yang dimulai ketika Mataram dipimpin oleh Sultan HB VII. Ketika itu rakyat jelata tidak diperbolehkan menggunakan andong. Rakyat hanya boleh menggunakan gerobak sapi atau dokar (kereta kuda beroda dua). Tetapi ketika masa Sultan HB VIII, andong mulai digunakan oleh masyarakat umum, meskipun masih terbatas pada para pedagang saja.

Karena bentuknya yang sangat Unik dan mempunyai nilai arsitektur yang tinggi serta terlihat wibawa, maka rakyat Mataram atau Yogyakarta pada Zaman dulu menciptakan Andong sebagai alat transportasinya. Kalau untuk kalangan Raja-raja di Yogyakarta atau Jogjakarta disebut dengan Kereta Kencana, sedangkan untuk Rakyat dengan sebutan Andong.

Walaupun sudah banyak kendaraan bermotor yang lebih cepat dan murah, tetapi pengguna Andong di Yogyakarta ini masih cukup banyak. Andong-andong ini dapat ditemui dengan mudah di sepanjang jalan Malioboro, pasar Ngasem, serta di Kotagede.

Andong memiliki keistemewaan yang tidak dimiliki transportasi modern saat ini, selain ramah lingkungan, transportasi ini ditarik oleh Kuda.

10 Wisata Kuliner di Jogja yang Unik dan Terkenal

Wisata Jogja  tentunya tak lepas dari wisata kuliner khas Jogja. Mungkin anda bingung mencari menu masakan yangkhas dari Kota Gudeg ini. Biasanya, tamu kami bertanya: ” Kalo makanan yang khas di Jogja apa saja mas “. 



Untuk menghadapi itu, kami memberikan referensi kepada anda semua dengan memberikan 10 wisata kuliner di Jogja yang wajib anda kunjungi. Tempat – tempat kuliner ini sangat beragam, mulai dari makanan berat, ringan hingga tempat kuliner yang menjadi favorit Raja Keraton Ngayogyokarto. Kami pilihkan dengan konsep yang unik dan menarik


Berikut kat ini daftar wisata kuliner yang wajib anda kunjungi selama berada di Yogya:


1. Bakmi Jawa

Bakmi Jawa di Yogyakarta jelas sangat berbeda dan memiliki khas tersendiri, Selain rasanya yang gurih, . Bakmi Jawa biasanya di masak dengan menggunakan Anglo ( tungku dari tanah liat dengan bahan baku arang ). 


Bakmi Jawa yang terkenal di Yogyakarta adalah :
a. Bakmi Jawa Mbah Mo ( Dusun Code Manding Bantul ). Letaknya sangat terpencil di dusun 
    code, namun menjadi incaran para pejabat dan artis ketika berkunjung ke Yogyakarta.
b. Bakmi Jawa Kadin. Bakmi Jawa yang sudah terkenal sejak dahulu kala, letaknya dekat 
    dengan Pakualaman, persis di samping Supermarket Superindo.
c. Bakmi Jawa Pak Pele, langganan para seniman Jogja. Letaknya di sebelah selatan Alun – 
    Alun Utara, atau dekat dengan Pagar Keraton. 

2. Gudeg
Anda sudah tahu gudeg?? jika belum silahkan baca artikel ini terlebih dahulu. Banyak sekali penjual gudeg di jogja, mungkin anda bingung gudeg mana yang terkenal dan unik. Disini kami akan menampilkan keunikan gudeg di Jogja.

Gudeg Yu Djum, merupakan legendaris gudeg di Jogja. Jika anda ingin menikmati kenyamanan, sebaiknya anda makan di rumah Yu Djum di daerah Mbarek Jl Kaliurang Selokan Mataram, deket MM UGM Yogya. Semua masyarakat di Indonesia dan Mancanegar pasti tahu Gudeg Yu Djum, jadi ini harus anda kunjungi sebagai referensi wisata kuliner di Jogja.

Selain Gudeg Yu Djum, anda juga harus menikmati Gudeg Pawon. Gudeg Khas Jogja yang memiliki Sensasi dalam menikmati makanan gudeg di dapur ( pawon – bahasa jawa ). Bukanya Hanya jam 11 malam, hingga jam 2 pagi saja. Letaknya di Jl. Janturan deket ( Selatan Pamella Swalayan Jl. Kusumanegara ).

Bosen atau anda sudah pernah mengunjungi kedua tempat diatas?? Kami referensikan Gudeg Permata ( Jl. Sultan Agung ) depan Bioskop Permata deket Pakualaman ( tempat tinggal Paku Alam ), selain itu Gudeg  

3. Soto Khas Jogja
Makanan Soto tentunya anda sudah tahu semua. Naahh.. soto yang khas dan terkenal di Yogyakarta adalah Soto Kadipiro, yang terletak di Jl. Wates dekat perempatan Wirobrajan. 

Di jalan ini anda akan menemui banyak Warung Makan Soto Kadipiro, namun yang asli adalah Soto Kadipiro yang berada di utara jalan ( satu deret dengan pom bensin ). Soto Ayam yang tidak bersantan ini berdiri sejak tahun 1921, dibangun oleh Pak Karto Wijoyo.


Selain Soto Kadipiro, Soto yang terkenal di Yogyakarta adalah Soto Pak Sholeh yang terletak di Jl Wiratama Tegal Rejo Yogyakarta. Tepatnya Jalan masuk Museum Sasana Wiratama Pangeran Diponegoro. Penampilan soto yang bening dan seger terlihat nikmat untuk dinikmati siang hari. Harganya pun sangat terjangkau, yaitu Rp 8.000 untuk 1 porsinya.

4. Mangut Lele Mbah Marto
Wisata Kuliner khas Jogja yang jarang didengar adalah Mangut lele ini. Mangut Lele, sesuai namanya menawarkan masakan olahan dari ikan lele. Tidak seperti masakan lele biasa, lele sebelum dimasak bersama kuah santan gurih dan pedas seperti kuah gulai, lele terlebih dahulu dibakar diatas tungku, sehingga dagingnya matang saat pembakaran.

Mangut Lele yang terkenal sejak dahulu adalah Mangut Lele Mbah Marto, letaknya di Dusun Geneng Sewon Bantul, atau tepat di belakang Institut Seni Indonesia ( ISI ) Yogyakarta. Walaupun namanya Warung Sego Gudeg Geneng Mbah Marto, namun yang terkenal adalah masakan Mangut Lelenya. Banyak kalangan artis dan pejabat dari luar kota yang menjadi langganan Mbah Marto.

Menu Warung Sego Gudeg Geneng Mbah Marto selain Mangut Lele, antara lain: Ceker, Gudeg Setengah Kering, Sambal Krecek, Sate Keong, Garang Asem, dll. Harga satu porsi mangut lele sebesar Rp 8.000 atau 10.000 dengan menu kompli ( Nasi, Mangut Lele, Gudeg dan Sayur Daun Pepaya ).


5. Oseng Oseng Mercon Bu Narti
Oseng oseng mercon pada dasarnya sama dengan sayur oseng – oseng lainnya, namun kelebihannya disini sayuran oseng – oseng Bu Narti terasa bagitu pedas hingga dikatakan sebagai oseng – oseng mercon. 

Oseng – oseng mercon bu Narti ini terletak tidak jauh dari Malioboro, sehingga anda cukup berjalan kaki menuju perempatan kantor pos, dan menuju ke arah barat ( RS. PKU Muhammadiyah ). Stelah pertigaan Rumah Sakit, masih ke barat kurang lebih 200m nanti kanan jalan ada spanduk Oseng – Oseng Mercon Bu Narti.

6. Resto Bale Raos
Bale Raos merupakan restoran para bangsawan keraton jaman dahulu. Disini anda dapat menemukan masakan kesukaan dari raja – raja keraton Ngayogyokarto. Mulai dari Hamengkubuwono XIII hingga sekarang, restoran ini memiliki menu favorit dari setiap

7. Oseng – Oseng Mercon
Nahh.. makanan ini menjadi incaran bagi pencinta makanan pedas. Saking pedasnya, anda serasa makan mercon di dalam mulut. Oseng – oseng Mercon yang terkenal di Yogyakarta adalah Oseng – Oseng Mercon Bu Hadi. Bertepat di Jl. Nyi Ahmad Dahlan Yogyakarta, sebelah Barat RS PKU Muhammadiyah atau 300m dari perempatan Kantor Pos Besar. Menu di Warung Makan ini adalah Oseng – Oseng Mercon, Ayam Bakar/Goreng, dll.

8. Sego Pecel ( SGPC ) Bu Wir
Mau sarapan pagi selain gudeg?? SGPC jawabanya. Sego Pecel ( disingkat SGPC ) menjadi laternatif yang dapat anda nikamti saat berada di Jogja. Sego Pecel yang terkenal dari  Madiun, kini dapat nikmati di Warung SGPC Bu Wir atau Bulaksumur.  Lokasinya tepat di sebrang Fakultas Peternakan UGM atau Selokan Mataram.

Sego Pecel ini berisi sayur – sayuran dengan diberi bumbu kacang yang manis dan pedes. Dengan Menu lauk yang tersedia:  tahu tempe, telur ceplok (mata sapi), sate telur, bakwan dll. SGPC Bu Wir memiliki suasana Tempoe Doeloe, sambil mendengarkan grup musik yang menyanyikan tembang nostalgia anda dapat merasakan sensasi wisata kuliner di Jogja.

9. Sate Klatak
Sate Klatak merupakan sate kambing yang diracik secara khusus, sehingga memiliki keunikan tersendiri. Sate kalatak ini terdapat di Pasar Jejeran Bantul atau sekitar 1 KM ke selatan dari Terminal Giwangan.

Kelembutan daging kambing dan racikan bumbu sate yang khas, membuat anda dapat menikmati sate khas bantul ini. Ditambah porsi 1 tusuk sate, sangatlah besar. Sehingga dengan 3 – 5 tusuk sate yang disajikan, dapat membuat perut anda penuh.

10. Brongkos
Sayur brongkos menjadi salah satu warisan masakan leluhur yang masih terjaga dan menjadi salah satu jenis kuliner yang sangat familiar. Namun, bagaimana rasanya menikmati brongkos yang konon menjadi menu favorit raja keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Makanan yang terbuat dari tahu dan kacang tolo dengan perpaduan kuah santan kental dan kaldu daging segar.

Brongkos yang terkenal di Jogja salah satunya adalah: Brongkos Bu Padmi yang terletak di bawah Jembatan Krasak Tempel Sleman. Bahkan Pak Bondan pernah berkunjung ke Warung Makan Bu Padmi ini untuk menikmati sensasi Brongkosnya. 

Selain Bu Padmi, Nasi Brongkos yang terkenal ada di dekat Alun – Alun Selatan Namanya RM. Handayani. Ciri khas brongkos buatan RM Handayani ini, tidak memakai kulit melinjo seperti brongkos pada umumnya dikarenakan banyak pembeli yang takut terkena asam urat. Selain itu, tidak memakai suwiran daging sapi hanya diambil kaldunya saja sebagai campuran kuah dengan santan. Telur yang digunakan sebagai pelengkap brongkos adalah telur bebek.

Bakso dan Sop Daging Sapi Lestari, Bakso Andalan di Jantung Kota Jogja

Ketika saya berkunjung ke rumah seorang teman yang kebetulan berada di kawasan Pakulaman, Jogja, saya diajak untuk bersantap malam di sebuah warung bakso yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Menurutnya, warung bakso ini adalah warung bakso paling populer di kawasan ini dan sekitarnya.

Kami pun melajukan motor ke arah Jl. K. H. Ahmad Dahlan, Jogja. Sekitar 100 meter timur perempatan Ngabean, kami pun berhenti di sebuah gerai bernama Bakso Lestari. Gerai bakso ini jadi satu dengan tempat jual daging sapi Lestari, maka dari itu gerai baksonya pun menggunakan nama yang sama. Sekitar pukul 17.30 WIB kami tiba di gerainya yang berwarna kuning tersebut. Berhubung kami datang mendahului dari waktu jam makan malam, gerai ini pun tampak sedikit sepi dari pengunjung. Setelah melihat menu, gerai ini rupanya juga menjajakan menu sop iga sapi. Selain memesan menu bakso urat tetelannya, kami pun juga memesan menu sop iga sapi sebagai santap malam kami yang terlalu cepat ini.

Kedua menu diracik dengan cepat, dan dalam hitungan tak lebih dari 10 menit semuanya tersaji di hadapan kami. Aromanya yang tercium dari asapnya yang mengepul diatas mangkuk tersebut, nafsu makan saya pun seolah tak terbendung lagi. Saya memutuskan untuk menyantap menu sop iga sapinya terlebih dahulu. Menu sop iga sapinya yang tidak terlalu diandalkan ini rupanya memiliki rasa yang cukup lezat meski memang tak istimewa. Rasanya yang cenderung gurih, dan diisi dengan wortel, kentang, dan seledri ini menghadirkan kesegaran dan rasa yang ringan di perut. Sedangkan menu kedua saya, yaitu baksonya memang terbilang menjanjikan. Tekstur baksonya yang sangat lembut, dengan cita rasa khas daging sapi segar membuat bakso ini terasa istimewa. Kuahnya yang gurih pun memberi keistimewaan pada menu sederhana ini. Selain itu, tetelannya yang juga lembut serta memberikan tambahan sensasi gurih ini pun membuat menu ini semakin terasa lezat dan memanjakan lidah. Memang menu bakso racikan gerai ini patut untuk dicoba.

Setelah mencicipi kedua menu ini, saya pun sepakat dengan komentar teman saya yang menyebutkan jika gerai bakso ini gerai yang patut untuk diandalkan, khususnya untuk di areanya. Bakso ini memang dengan mudah akan membuat siapapun jatuh cinta pada kelezatan rasanya.

Artikel Tentang Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta (atau Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta dan seringkali disingkat DIY) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara. Secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah. Daerah tersebut terkena bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang mengakibatkan 1,2 juta orang tidak memiliki rumah.
Provinsi DI. Yogyakarta memiliki lembaga pengawasan pelayanan umum bernama Ombudsman Daerah Yogyakarta yang dibentuk dengan Keputusan Gubernur DIY. Sri Sultan HB X pada tahun 2004.

sejarah
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.
Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dirunut asal mulanya dari tahun 1945, bahkan sebelum itu. Beberapa minggu setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihat kondisi yang ada, Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945 . Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Paku Alam VIII pada hari yang sama. Dekrit integrasi dengan Republik Indonesia semacam itu sebenarnya juga dikeluarkan oleh berbagai monarki di Nusantara, walau tidak sedikit monarki yang menunggu ditegakkannya pemerintahan Hindia Belanda setelah kekalahan Jepang.
Pada saat itu kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat meliputi:
Kabupaten Kota Yogyakarta dengan bupatinya KRT Hardjodiningrat,
Kabupaten Sleman dengan bupatinya KRT Pringgodiningrat,
Kabupaten Bantul dengan bupatinya KRT Joyodiningrat,
Kabupaten Gunungkidul dengan bupatinya KRT Suryodiningrat,
Kabupaten Kulonprogo dengan bupatinya KRT Secodiningrat.
Sedangkan kekuasaan Kadipaten Pakualaman meliputi:
Kabupaten Kota Pakualaman dengan bupatinya KRT Brotodiningrat,
Kabupaten Adikarto dengan bupatinya KRT Suryaningprang.
Dengan memanfaatkan momentum terbentuknya Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta pada 29 Oktober 1945 dengan ketua Moch Saleh dan wakil ketua S. Joyodiningrat dan Ki Bagus Hadikusumo, maka sehari sesudahnya, semufakat dengan Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta, Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan bersama (dikenal dengan Amanat 30 Oktober 1945 ) yang isinya menyerahkan kekuasaan Legeslatif pada Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta. Mulai saat itu pula kedua penguasa kerajaan di Jawa bagian selatan mengeluarkan dekrit bersama dan memulai persatuan dua kerajaan.
Semenjak saat itu dekrit kerajaan tidak hanya ditandatangani kedua penguasa monarki melainkan juga oleh ketua Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta sebagai simbol persetujuan rakyat. Perkembangan monarki persatuan mengalami pasang dan surut. Pada 18 Mei 1946, secara resmi nama Daerah Istimewa Yogyakarta mulai digunakan dalam urusan pemerintahan menegaskan persatuan dua daerah kerajaan untuk menjadi sebuah daerah istimewa dari Negara Indonesia. Penggunaan nama tersebut ada di dalam Maklumat No 18 tentang Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta (lihat Maklumat Yogyakarta Nomor 18 Tahun 1946 ). Pemerintahan monarki persatuan tetap berlangsung sampai dikeluarkannya UU No 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengukuhkan daerah Kesultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman adalah bagian integral Negara Indonesia.

etimologi

Wilayah yang kemudian menjadi keraton dan ibukota Yogyakarta telah lama dikenal sebelum Sultan Hamengkubuwono I memilih tempat itu sebagai pusat pemerintahannya. Wilayah itu dikenal dalam karya sejarah tradisional (Babad) maupun dalam leluri dari mulut ke mulut. Babad Giyanti mengisahkan bahwa Sunan Amengkurat telah mendirikan dalem yang bernama Gerjiwati di wilayah itu. Kemudian oleh Paku Buwana II dinamakan Ayogya.[5] Secara etimologis Ngayogyakarto Hadiningrat berasal dari kata Ayu – Gya – Karto atau Ayodya – Karto – Ning – Rat. Harimurti Subanar, UGM, mendiskripsikan : Nga = Menuju; Yogya = Sebaik – baiknya; Karta = Bekerja/Makarya; Hadi = Agung, Luhur; Ning = Bening, Jernih, Suci; Rat = Jagat, Bawono; Jagad kecil adalah manusia dan jagad besar adalah semesta alam. Secara filosofis makna Ngayogyakarto adalah hakekat, gegayuhan atau tujuan hidup untuk menciptakan kebahagiaan dunia akherat & negeri yang Baladil Amin (Adil & Amanah).
Wilayah kerajaan ini didirikan di Pesanggarahan Garjitowati, Tlatah Pacetokan, Alas Bering, yang berada diantara dua sungai, yaitu : Sungai Winongo dan Sungai Code. Komplek Kraton terletak ditengah – tengah dan berada pada as-kosmis, dari utara terdapat garis lurus dengan Tugu dan Gunung Merapi dan dari Selatan simetris dengan Panggung Krapyak dan laut selatan.
Luas Kraton Yogyakarta 14.000 meter persagi, yang didalamnya terdapat 22 macam bentuk bangunan dan fungsinya yang dilandasi nilai – nilai filosofis, Kraton dibangun pada tahun 1756 dengan condrosengkolo memet : “Dwi Naga Rasa Tunggal”.
Kraton memiliki Plengkung atau Gerbang utama yang masing masing memiliki nama – nama tersendiri, memiliki benteng tinggi mengelilingi Kraton dan empat beteng pengintai disetiap sudutnya. Jumlah jalan keluar masuk ada 9 jalan, dan 5 jalan yang bertemu dialun – alun, Corak pembentukan kota Yogyakarta pada hakekatnya merupakan implementasi dari konsep P. Mangkubumi 1755, yang berdasarkan pada bentuk tata tubuh manusia dimana Yogyakarta terbagi dua wilayah, bagian selatan merupakan simbul rohani dan bagian utara merupakan simbol duniawi.
Bangunan Kraton Yogyakarta sebelah Utara terdiri dari : Kedhaton / Prabayekso, Bangsal Kencana, Regol Danapratapa / Pintu Gerbang, Bangsal Sri Manganti, Regol Sri Manganti, Bangsal Ponconiti, Regol Brajanala, Siti Hinggil, Tarub Agung, Pagelaran (tiangnya 64), Alun – alun utara (jumlah pohon 62, angka 62 + 64 menggambarkan usia rasulullah tahun Masehi dan tahun Jawa), Pasar Beringharjo, Tugu. Sebelah Selatan : Regol Kemagangan, Bangsal Kemagangan, Regol Gadung Mlati, Bangsal Kemandungan, Regol Kemandungan, Sasana Hinggil, Alun – alun Selatan, Krapyak.

budaya

Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sejak masih kanak-kanak sampai dewasa, masyarakat Yogyakarta akan sangat sering menyaksikan dan bahkan, mengikuti berbagai acara kesenian dan budaya di kota ini. Bagi masyarakat Yogyakarta, di mana setiap tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang penting dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi juga pasti tidak lepas dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tersebut. Kesenian yang dimiliki masyarakat Yogyakarta sangatlah beragam. Dan kesenian-kesenian yang beraneka ragam tersebut terangkai indah dalam sebuah upacara adat. Sehingga bagi masyarakat Yogyakarta, seni dan budaya benar-benar menjadi suatu bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kesenian khas di Yogyakarta antara lain adalah kethoprak, jathilan, dan wayang kulit.yogyakarta juga dikenal dengan perak dan gaya yang unik membuat batik kain dicelup. ia juga dikenal karena seni kontemporer hidup. Memberikan nama kepada anak masih merupakan hal penting Nama2 anak jawa. Yogyakarta juga dikenal dengan gamelan musik, termasuk gaya yang unik gamelan yogyakarta